Kamis, 15 November 2012

Analisis Kualitatif dan kuantitatif

ATTEMPT II.

A.    TITLE            : KONSEP ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITAIF
B.    PURPOSE        : Mahasiswa mampu menganalisis secara kuantitatif dan kualitatif sampel atau bahan paraktikum.
C.    COGNITIVE BASIC    :
Pada dasarnya, konsep analisis kimia dapat dibagi atas 2 bagian:
1.    analisis kualitatif, analisis yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat atau campuran yan tidak diketahui.
2.    analisis kuntitatif, analisis kimia yang menyangkut penentuan jumlah zat tertentu yang ada dalam suatu sample (contoh).
Ada dua langkah utama dalam analisis adalah identifikasi dan estimasi komponen-komponen suatu senyawa. Langkah identifikasi ini dikenal sebagai analisis kualitatif sedangkan estimasinya adalah analisi kuantitatif.
 Walaupuan analisis kualitatif sudah banyak ditingagalkan, namun analisis kualitatif ini merupakan aplikasi prinsip-prnsip umum dan konsep-konsep dasar yang telah dipelajari dalam kimia dasar. Analisis kualitatif digunakan sebelum analisis kuantitatif. Setelah mengetahui komponen/ pengotor apa melelui analisis kualitatif, barulah dilakukan analisis kuantitatif. Tujuan utama analisis kauntittatif adalah unutk mengetahui kuantitas (jumlah) dari setiap komponen yang menyusun analit. Langkah ini terbilang sederhana.
Dalam analisis kualitatif pengamatan visual merupakan hal yang penting. Bila kita dihadapkan pada suatu larutan yang tidak diketahui, pertanyaan yang timbul adalah “ apakah warnanya? “. Warna adalah penting, karena beberapa ion anorganik dapat diketahui dari warnanya yang spesifik. Walau demikian kita tidak boleh menarik kesimpulan secara tepat terutama bila yang dianalisi berupa larutan yang terdiri atas campuran beberapa ion harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak terjadi kesimpulan yang salah.
Misalnya, larutan yang mengandung ion Co2+ berwarna pink dalam larutan yang mengandung Ni2+ berwarna hijau, bila saling bercampur menjadi tidak berwarna. Amatan visual berkaitan dengan warna dari sampel padatan juga penting. Warna-warna endapan yang dihasilkan dari reaksi dalam larutan kadang-kadang menunjukan identitas dari endapan yang terbentuk. Larutan Pb2+ dan I- keduanya tidak berwarna, yang apabila dicampurkan akan terbentuk endapan kuning terang dari PbI2. komponen-komponen penyusun campuran padat seringkali diidentifikasi dari masing-masing warnanya.    
Analisis kuantitatif dapat diklasifikasikan dengan dasar perbedaan metode analisis atau diklasifikasikan dengan dasar skala analisisnya.
Analisis kuantitatif menghasilkan data numerik yang memilki satuan tertentu. Data analisis kuantitatif umumnya dinyatakan dalam satuan volume, berat maupun konsentrasi dengan menggunakan analisis tertentu. Analisis kuantitatif agak lebih rumit.
Analisis kuantitatif adalah pengukuran banyaknya komponen yang diinginkan Dalam cuplikan yang dianalisis. Analisis kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tesebut, sering kali dinyatakan sebagai konstituen atau analit, menyusun entah sebagian kecil atau sebagian besar sampel yang dianalisis jika zat yang dianalisa menyusun lebih 1% dari sampel, maka analit ini dianggap sebagai konstituen utama.
Analisis kuantitatif dapat diklasifikasikan dengan dasar metode analisis atau diklasifikasikan berdasarkan skala analisisnya. Klasifikasi itu dapat dibagi atas metode-metode yang mencakup metode analisis klasik seperti gravimetri atau volumetri dan yang mencakup instrumentasi cangih, yang kemudian dikenal sebagai tekhnik analisis moderen. Pada mulanya metode yang baru ini tidak dapat menjamin hasil yang reprodusibel. Untuk mendapatkan hasil yang reprodusibel maka harus diperoleh contoh yang benar-benar reprpresentaitif dan bebas dari unsur-unsur pengganggu. Karena unsur-unsur pengganggu dapat membuat hasil pengukuran yang tidak akurat.
Masalah seorang analis yang berhubungan dengan penarikan sampel dan unsur-unsur pengganggu dapat teratasi dengan pengetahuan penarikan sampel yang baik, netode pemisahan yang cukup sempurna seperti ekstraksi pelarut, pertukaran ion dan berbagai metode kromatografi. Namun, dapat dikatakan bahwa metode-metode isilasi dan pemurnian seperti ini belum cukup banyak. Bila jumlah contohnya berkisar pada konsentrasi milligram, langkah yang digunakan adalah gravimetric atau volumetri. Bila komponen yang dianalisa terdapat pada konsentrasi yang sangat rendah, digunakan metode-metode optik atau spektroskopi seperti UV-visible.
Analisis kualitatif membahas tentang identifikasi suatu zat, fokus kajiannya adalah unsur apa yang terdapat dalam suatu sampel (contoh). Analisis kualitatif sampel terdiri atas golongan kation.
Pada dasarnya konsep analisis kimia dapat dibagi atas dua bagian, yaitu:
1.    analisis kualitatif, analisis yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat atau campuran yang tidak diketahui
2.    analisis kuantitatif, analisis kimia yang menyangkut penentuanjumlah zat tertentu yang ada didalam suatu sample (contoh)
ada dua aspek penting dalam analisis kualitatif, yaitu pemisahan dan identifikasa. Kedua aspek ini dilandasa oleh kelarutan, keasaman pembentukan senyawa kompleks, oksidasi reduksi, sifat penguapan dan ekstraksi. Sifat-sifat ini sebagai sifat periodik menunjukkan kecenderungan dalam kelarutan klorida, sulfide, hidroksida karbonat sulfat dan garam-garam lainnya dari logam.
Walaupun analisis kualitatif (analisis klasik) sudah banyak ditinggalkan, namun analisis kualitatif inimerupakan aplikasi prinsip-prinsip umum dan konsep-konsep dasar yang telah dipelajari dalam kimia dasar.
Setelah melakukan analisis kualitatif, diketahui komponen apa atau pengotor apa yang ada dalam sample tertentu, seringkali ditemukan informasi tambahan mengenai berapa banyaknya masing-masing komponen atau pengotor tersebut. Beberapa tekhik analisis kuantitatif diklasifikasikan atas dasar:
1.    pengukuran banyaknya pereaksi yang diperlukan untuk menyempurnakan suatu reaksi / banyaknyahasil reaksi yang terbentuk.
2.    pengukuran besarnya sifat listrik (misalnya potensiometri)
3.    pengukuran sifat optis (pengukuran obsorbans)
4.    kombinasi dari 1 dan 2 atau 1 dan 3.
        Analisis kimia kuantitatif yang klasik menyangkut analisis grafimetri dan titrimetri. Dalam analisis grafimetri, zat yang akan ditentukan diubah ke dalam bentuk endapan yang sukar larut, selanjutnya dipisah dan ditimbang.
        Sedangkan analisis titrimetri yang sering disebut analisis volumetric, zat yang akan ditentukan dibiarkan bereaksi dengan suatu pereaksi yang diketahui sebagai larutan standar (baku). Kemudian volume larutan tersebut yang diperlukan untuk dapat bereaksi sempurna tersebut diukur. Selain kedua metode analisis tersebut diatas, dalam analisis dasar ini akan dipelajari pula metode spektroskopi absorbsi.
1.    Sistematika analisis kation
        Prosedur yang biasa digunakan untuk menguji suatu zat yang tidak diketahui, pertama kali adalah membuat sample (contoh) yang dianalisis dalam bentuk cairan (larutan). Selanjutnya terhadap larutan yang dihasilkan dilakukan uji ion-ion yang mungkin ada.
        Kesulitan yang lebih besar dijumpai pada saat mengidentifikasi berbagai konsentrasi dalam suatu campuran untuk ion, biasanya dilakukan pemisahan ion terlebih dahulu melalui proses pengendapan, selanjutnya dilakukan pelarutan kembali endapan tersebut. Kemudian diadakan uji-uji spesifik untuk ion-ion yang akan diidentifikasi. Uji spesifik dilakukan dengan menambahkan reagen (pereaksi) tertentu yang akan memberikan larutan atau endapan berwarna yang merupakan karakteristik (khas) untuk ion-ion tertentu.
        Analisis campuran kation-kation memerlukan pemisahan kation secara sistematik dalam golongan dan selanjutnya diikuti pemisahan masig-masing golongan kedalam sub golongan dan komponen-komponennya. Pemisahan dalam golongan didasarkan perbedaan sifat kimianya dengan cara menambahkan pereaksi yang akan mengendapkan klorida dari ion-ion timbal (Pb2+),perak (Ag+) dan raksa (Hg2+). Setelah ion-ion ini diendapkan dan dipisahkan, ion-ion lain yang ada dalam larutan tersebut dapat diendapkan dan penambahan H2S dalam suasana asam setelah endapan dipisahkan perlakuan selanjutnya dengan pereaksi tertentu memungkinkan terpisah golongan ini.
        Jadi dalam analisis kualitatif sistematik kation-kation diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation terhadap beberapa pereaksi antara lain adalah asam klorida (HCl),hidrogen sulfida, amonium sulfida dan amonium karbonat.
        Umumnya klasifikasi kation didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfida dan karbonat dari kation-kation tersebut. Skema dibawah ini memperlihatkan pemisahan-pemisahan kation-kation dalam golongan I sampai dengan V berdasarkan sifat kimianya. Setelah pemisahan dilakukan uji spesifik untuk masing-masing kation.
    Analisis golongan kation
Pada analisis sistematik dari kation maka golongan logam-logam yang akan diidentifikasi dipisahkan menurut golongan berikut:
- Golongan I, Disebut golongan asam klorida terdiri atas: Pb2+, Ag+, Hg2+
- Golongan II, disebut golongan hidrogen sulfida, terdiri atas: As, Sn, Sb, Cu, Pb2+, Bi2+, Hg2+, Cd2+
- Golongan III, disebut golongan amonium sulfida terdiri atas: Al, Cr, Fe, Zn, MN, Co, dan Ni
- Golongan IV, disebut golongan amonium karbonat, terdiri atas: Ba, Sr, dan Ca
- Golongan V, disebut golongna sisa, terdiri atas: Mg, K, NH4+
    Analisis golongan anion
Analisis anion dilakukan dengan mengamati perubahan spesifik dari sampel yang diuji meliputi perubahan warna/terjadinya gas/bau dari sampel yang diuji, atas penambahan asam sulfat encer atau pekat. Untuk menganalisis anion dalam larutan, maka harus bebas dari logam berat dengan cara menambah larutan Na2CO3 jenuh, lalu dididihkan. Dalam hal ini logam-logam tersebut akan terlarutkan sebagai garam karbonat, sedangkan anionnya terlarut sebagai garam natrium.
Analisis kuantitatif fokus kajiannya adalah penetapan banyaknya suatu zat tertentu (analit) yang ada dalam sampel. Analisis kuantitatif terhadap suatu sampel terdiri atas empat tahapan pokok:
1. Pengambilan atau pencuplikan sampel (sampling), yakni memilih suatu sampel yang  mewakili dari bahan yang dianalisis.
2. Mengubah analit menjadi suatu bentuk sediaan yang sesuai untuk pengukuran.
3. Pengukuran.
4. Perhitungan dan penafsiran pengukuran.
Langkah pengukuran dalam suatu analisis dapat dilakukan dengan cara-cara kimia, fisika, biologi. Teknik laboratorium dalam analisis kuantitatif digolongkan ke dalam titrimetri (volumetri), gravimetri dan instrumental. Analisis titrimetri berkaitan dengan pengukuran volume suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui yang diperlukan untuk bereaksi dengan analit. Pada cara gravimetri pengukuran menyangkut pengukuran berat. Istilah analisis instrumental berhubungan dengan pemakaian peralatan istimewa pada langkah pengukuran.
Metode yang baik dalam suatu analisis kuantitatif seharusnya memenuhi kriteria yaitu:
1)    Peka (sensitive), artinya metode harus dapat digunakan untuk menetapkan kadar senyawa dalam konsentrasi yang kecil. Misalnya pada penetapan kadar zat-zat beracun, metabolit obat dalam jaringan dan sebagainya.
2)    Presisi (Precise), artinya dalam suatu seri pengukuran (penetapan) dapat diperoleh hasil yang satu sama yang lain hampir sama.
3)    Akurat (Accurate), artinya metode dapat menghasilkan nilai rata-rata (mean) yang sangat dekat dengan nilai sebenarnya (true value).
4)    Selektif, artinya untuk penetapan kadar senyawa tertentu, metode tersebut tidak banyak terpengaruh oleh adanya senyawa lain yang ada.
5)    Praktis, artinya mudah dikerjakan serta tidak banyak memerlukan waktu dan biaya.
Syarat ini perlu sebab banyak senyawa-senyawa yang tidak mantap apabila waktu penetapan terlalu lama. Pemilihan metode yang memenuhi semua syarat di atas hampir tidak mungkin kita peroleh, sehingga perlu kita pilih kriteria yang sesuai dengan keadaan sampel yang kita uji. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode analisis adalah tujuan analisis, macam dan jumlah bahan yang dianalisis, ketepatan dan ketelitian yang diinginkan, lamanya waktu yang diperlukan untuk analisis, dan peralatan yang tersedia. Misalnya apabila sampel terlalu kecil kadarnya, maka sensitivitas menjadi dasar pemilihan metode analisis. Kriteria utama yang perlu diperhatikan dalam suatu analisis adalah ketepatan, ketelitian, dan selektifitas
    Kesetimbangan
Tetapan kesetimbangan untuk reaksi berikut:
aA + bB _ cC + dD
adalah : K = [C]c + {D]d
[A]a + [B]b
Nilai K tersebut konstan pada suhu dan tekanan tertentu. Dalam analisa kualitatif nilai K tersebut dapat digunakan untuk menggeser kesetimbangan ke arah reaksi yang dikehendaki. Kesetimbangan kimia dapat digeser ke arah pembentukan hasil reaksi dengan menambahkan lebih banyak pereaksi atau dengan mengeluarkan salah satu hasil reaksi dari sistem kesetimbangan. Dalam prakteknya hal ini berarti menambahkan pereaksi-pereaksi dengan berlebih, atau mengeluarkan hasil reaksi dari fase larutan misalnya dengan pengendapan, penguapan atau pun ekstraksi. Pergeseran kesetimbangan juga dapat dilakukan dengan cara merubah suhu atau pun tekanan.
    Reaksi Pengendapan
Banyak reaksi-reaksi yang menghasilkan endapan berperan penting dalam analisa kualitatif. Endapan tersebut dapat berbentuk kristal atau koloid dan dengan warna yang berbeda-beda. Pemisahan endapan dapat dilakukan dengan penyaringan atau pun sentrifus. Endapan tersebut terbentuk jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan. Kelarutan suatu endapan adalah sama dengan konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi seperti tekanan, suhu, konsentrasi bahan lain dan jenis pelarut. Perubahan kelarutan dengan perubahan tekanan tidak mempunyai arti penting dalam analisa kualitatif, karena semua pekerjaan dilakukan dalam wadah terbuka pada tekanan atmosfer. Kenaikan suhu umumnya dapat memperbesar kelarutan endapan kecuali pada beberapa endapan, seperti kalsium sulfat, berlaku sebaliknya. Perbedaan kelarutan karena suhu ini dapat digunakan sebagai dasar pemisahan kation. Misalnya, pemisahan kation Ag, Hg(I), dan Pb dapat dilakukan dengan mengendapkan ketiganya sebagai garam klorida, kemudian memisahkan Pb dari Ag dan Hg(I) dengan memberikan air panas. Kenaikan suhu akan memperbesar kelarutan Pb sehingga endapan tersebut larut sedangkan kedua kation lainnya tidak. Kelarutan bergantung juga pada sifat dan konsentrasi bahan lain yang ada dalam campuran larutan itu. Bahan lain tersebut dikenal dengan ion sekutu dan ion asing. Umumnya kelarutan endapan berkurang dengan adanya ion sekutu yang berlebih dan dalam prakteknya ini dilakukan dengan memberikan konsentrasi pereaksi yang berlebih. Tetapi penambahan pereaksi berlebih ini pada beberapa senyawa memberikan eek yang sebaliknya yaitu melarutkan endapan. Hal ini terjadi karena adanya pembentukan kompleks yang dapat larut dengan ion sekutu tersebut. Sedangkan adanya ion asing menyebabkan kelarutan endapan menjadi sedikit bertambah, kecuali jika terjadi reaksi kimia antara endapan dengan ion asing. Penambahan ion asing seperti penambahan asam atau basa kuat dan ligan dapat menyebabkan endapan menjadi larut kembali, Contohnya pada reaksi berikut:
Ni(OH)2 (s) + 2H+      Ni2+ + 2H2O
AgCl (s) + 2NH3         Ag(NH3)2+ +  Cl-
Perubahan kelarutan karena komposisi pelarut mempunyai sedikit arti penting dalam analisis kualitatif. Meskipun kebanyakan pengujian dilakukan dalam larutan air, dalam beberapa hal lebih menguntungkan jika digunakan pelarut lain misalnya pelarut organik seperti alkohol,eter, dan lain-lain. Hasil kali kelarutan suatu endapan yang dipangkatkan dengan bilangan yang sama dengan jumlah masing-masing ion bersangkutan menghasilkan tetapan yang dikenal dengan Ksp. Misalnya, jika endapan perak klorida ada dalam kesetimbangan dengan larutan jenuhnya:
AgCl         Ag+ + Cl-
Maka Ksp = [Ag+]1 [Cl-]1
Tetapan ini dalam analisis kualitatif mempunyai nilai yang berarti, karena tidak saja dapat menerangkan, tetapi juga dapat membantu meramalkan reaksi-reaksi pengendapan. Jika hasil kali ion lebih besar dari hasil kali kelarutan suatu endapan, maka akan terbentuk endapan, sebaliknya jika hasil kali ion lebih kecil dari hasil kali kelarutan maka endapan tidak akan terbentuk. Berdasarkan nilai Ksp ini maka kation-kation dapat dipisahkan menjadi beberapa kelompok kecil yang selanjutnya dapat memudahkan identifikasi masing-masing kation.





D.    TOOL AND MATERIAL    :
No     Name Tool    Image    Function
1    Gelas Kimia   
Berfungsi untuk diletakkannya larutan

2    Pipet Tetes   

Untuk meneteskan larutan dengan jumlah kecil.

3    Rak Tabung   
    Tempat tabung reaksi


4    Tabung Reaksi   





    Untuk mereaksikan zat
5    Gelas Ukur   




    untuk mengukur reagen yang digunakan
           




    Material:
1)    NaOH
    Sifat Fisik:
1.    Warna putih
2.    Massa molar 39,9971 g/mol
    Sifat Kimia:
1.    Larut dalam air
2.    Kebasaan (pkb) -2,34
2)    H2SO4
    Sifat Fisik:
1.    Cairan bening
2.    Titik leleh 10 0C
3.    Titik didih 330 0C
    Sifat Kimia:
    Asam kuat
3)    HCl
    Sifat Fisik:
1.    Cairan tak berwarna
2.    Titik leleh: 27,32 0C
3.    Titik didih 110 0C (303 K)
    Sifat Kimia:
1.    Korosif
2.    Asam kuat
4)    NH3:
    Sifat Fisik:
1.    Tak berwarna
2.    Densitas: 0,86 kg/m3
    Sifat Kimia:
1.    Larut dalam air
2.    Beracun
3.    Korosif
4.    Kebasaan (pkb) 4,75
5)    K2CrO4
    Sifat Fisik:
1.    Warna kuning
2.    Densitas: 2,7320 g/cm3
    Sifat Kimia:
1.    Larut dalam air
2.    Tidak larut dalam alcohol
3.    Beracun
4.    iritan
6)    AgCl2
    Sifat Fisik:
1.    Warna putih
2.    Massa molar 143,32 g/mol
    Sifat Kimia:
1.    Larut dalam NH3, HCl, H2SO4
2.    tidak larut dalam alkohol
7)    NH4OH
    Sifat Fisik:
1.    Cairan tak berwarna
2.    Kerapatan 0,91 g/cm3 (32%)
    Sifat Kimia:
1.    Korosif
2.    Larut dalam air
8)    KI:
    Sifat Fisik:
    Kelarutan dalam air 140 g/100 ml (20 0C)
    Sifat Kimia:
    Larut dalam aseton, salkohol dan ammonia
9)    Na2CO3:
    Sifat Fisik:
Kelarutan dalam air 215 g/L (20 0C)
    Sifat Kimia:
Kebasaan pKb 4,67. Dapat berupa anhidrat, monohidrat hingga dekahidrat





E.    WORKING PROCEDURE    :
1)    Sample A

 
          
Menambahkan HCl         Menambahkan KI         Menambahkan K2CrO4   Menambahkan KCN
Menambahkan NH3
Menambahkan NaOH  


 



     




2)    Sampel B




         










3)    Sampel C





    lm









4)    Sampel D

 















5)    Sampel E


 












6)    Sampel F
   
 
















F.    OBSERVING RESULT
PERLAKUAN    HASIL PENGAMATAN
SAMPEL A:

Ditambahkan HCl    Terbentuk       putih
Ditambahkan NH3    Terbentuk       putih

Ditambahkan NaOH    Terbentuk       putih

Ditambahkan KI    Terbentuk sedikit       kuning

Ditambahkan K2CrO4    Terbentuk       kuning
Ditambahkan KCN    Terbentuk sedikit       putih

Ditambahkan Na2CO3    Terbentuk       putih

SAMPEL B
Ditambahkan HCl    Terbentuk     putih

Ditambahkan NH3    Terbentuk      cokelat
Ditambahkan NaOH    Terbentuk     cokelat

Ditambahkan KI    Terbentuk      kuning

Ditambahkan K2CrO4    Terbentuk      merah

Ditambahkan KCN    Terbentuk    putih

Ditambahkan Na2CO3    Terbentuk putih    kekuningan

SAMPEL C
Ditambahkan NH4OH    Tidak terjadi perubahan
Ditambahkan NH3    Terbentuk        biru

Ditambahkan NaOH    Terbentuk        biru

Ditambahkan KI    Terbentuk     putih

SAMPEL D
Ditambahkan NH4OH    Terbentuk      putih

Ditambahkan NaOH    Larutannya larut
Ditambahkan Na2CO3    Nya terlarut

SAMPEL E
Ditambahkan H2SO4    Terbentuk putih
Ditambahkan K2CrO4    Terbentuk       kuning

Ditambahkan NH3    Tidak ada perubahan
Ditambahkan Na2CO3    Terbentuk     putih

SAMPEL F
Ditambahkan NaOH    Terbentuk       putih

Ditambahkan NH4OH    Terbentuk      putih

Ditambahkan NH3    Terbentuk       putih





























G.    WORKING THROUGH
Pada dasarnya, konsep analisis kimia dapat dibagi atas 2 bagian:
1.    analisis kualitatif, analisis yang berhubungan dengan identifikasi suatu zat atau campuran yan tidak diketahui.
2.    analisis kuntitatif, analisis kimia yang menyangkut penentuan jumlah zat tertentu yang ada dalam suatu sample (contoh).
Ada dua langkah utama dalam analisis adalah identifikasi dan estimasi komponen-komponen suatu senyawa. Langkah identifikasi ini dikenal sebagai analisis kualitatif sedangkan estimasinya adalah analisi kuantitatif.
Analisis kuantitatif adalah pengukuran banyaknya komponen yang diinginkan Dalam cuplikan yang dianalisis. Analisis kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu yang terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tesebut, sering kali dinyatakan sebagai konstituen atau analit, menyusun entah sebagian kecil atau sebagian besar sampel yang dianalisis jika zat yang dianalisa menyusun lebih 1% dari sampel, maka analit ini dianggap sebagai konstituen utama.
Pertama-tama Sampel A ini ditambahkan HCl terbentuk endapan putih PbCl2, kemudian ditambahkan NH3 terbentuk endapan putih, ditambahkan NaOH masih tetap terbentuk endapan putih, setelah ditambahkan KI terbentuk sedikit endapan kuning, ditambahkan K2CrO4 terbentuk endapan kuning, kemudian ditambahkan KCN terjadi perubahan yaitu sedikit endapan putih, setelah itu ditambahkan lagi Na2CO3 terbentuk endapan putih sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel ini merupakan Pb2+. Berikut reaksi-reaksinya:
Pb2+ + HCl     PbCl2
Pb2+ + NH3      Pb(NH3)42+
Pb2+ + NaOH        Pb(OH)2
Pb2+ + KI     PbI2
Pb2+ + K2CrO4        Pb(CrO4)2
 Pb2+ + KCN          Pb(CN)2
Pb2+  + Na2CO3             PbCO3
Sampel B pertama-tama ditambahkan HCl sehingga terbentuk endapan putih, kemudian ditambahkan lagi NH3 sehingga endapannya berubah menjadi berwarna cokelat, selanjutnya ditambahkan lagi NaOH endapan tetap berwarna cokelat, hal ini mulai mengindikasikan bahwa sampel tersebut mengandung ion Ag+. Untuk meyakinkan bahwa yang terdapat pada sampel tersebut adalah ion Ag+, maka ditambahkan lagi pereaksi KI sehingga terdapat endapan berwarna kuning, ditambahkan lagi K2CrO4 sehingga terbentuk endapan merah, ditambahkan KCN terbentuk endapan outih, kemudian ditambahkan lagi Na2-CO3, endapan berubah menjadi putih kekuningan, selanjutnya ditambahkan Na2¬CO3 secara berlebihan, endapan berubah menjadi cokelat. Dari penambahan reagen-reagen tersebut, dan dengan memperhatikan perubahan-perubahan yyang terjadi, sehingga dapat dipastikan bahwa yang terdapat pada sampel B adalah ion Ag+. Berikut reaksi-reaksi yang terjadi pada percobaan sampel B:
Ag+    +    2HCl        AgCl2
Ag    +    NH3         Ag(NH3)
Ag    +    NaOH       Ag(OH)2
Ag    +    2KI        AgI2
Ag    +     K2CrO4     AgCrO4
Ag    +    KCN         AgCN
Ag    +    Na2CO3      AgCO3


 


     

    

    

    

 
   

    


(Gambar hasil penambahan reagen)

Pada sampel C ini pertama ditambahkan terlebih dahulu reagen NH4OH setelah ditambahkan tidak ada perubahan yang terjadi. Kemudian ditambahkan reagen NH3 sedikit terbentuk endapan biru, berlebih tendapannya larut sehingga terbentuk warna biru tua, setelah itu ditambahkan lagi reagen NaOH terjadi endapan biru jika berlebih endapannya tidak larut. Kemudian ditambahkan lagi reagen KI untuk menguji bahwa sampel C ini termasuk unsur dari Cu2+, setelah ditambahkan terjadi endapan putih tetapi larutannya berwarna cokelat tua. Sehingga diperoleh reaksi berdasarkan reagen-reagen yang digunakan:

Cu2+ + NH4OH               Cu2(OH)
Cu2+ + NH3                Cu(NH3)42+
Cu2+ + NaOH             Cu(OH)2
Cu2+ + KI            CuI
 
(Gambar hasil penambahan reagen)

Pada sampel D, pertama-tama ditambahkan NH4OH pada sampel sehingga terbentuk endapan putih, setelah itu ditambahkan lagi NaOH berlebih maka larutannya larut, kemudian ditambahkan lagi Na2CO3 endapannya pun terlarut. Dari, perubahan yang diamati tersebut sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel ini adalah Al3+. Berikut reaksi-reaksinya:
    Al3+ + NH4OH    Al(OH)3   
    Al3+ + NaOH    Al(OH)3
    Al3+ + Na2CO3    Al(CO3)3
        Pada sampel E, pertama-tama ditambahkan H2SO4 terbentuk endapan putih,     ditambahkan K2CrO4  terbentuk endapan kuning, kemudian ditambahkan lagi NH3 tidak ada perubahan, setelah ditambahkan Na2CO3 terbentuk e ndapan putih. Dari perubahan yang diamati diatas maka dapat disimpulkan bahwa sampel E adalah Ba2+. Berikut ini reaksi-reaksinya:
Ba2+ + H2SO4          Ba(SO4)2
Ba2+  + K2CrO4        BaCrO4
Ba2+ + 2NH3OH        Ba(OH)2
    Ba2+ + Na2CO3                 BaCO3           
        Pada sampel F mula-mula ditambahkan NaOH terbentuk endapan putih, setelah itu NH4OH dan terbentuk endapan putih, untuk lebih meyakinkan bahwa sampel F ini merupakan Mg2+ maka ditambahkan lagi NH3 dan terbentuk endapan putih, sehingga dapat disimpulkan bahwa sampel F merupakan Mg2+. Berikut reaksi-reaksinya:

Mg2+ + NaOH    Mg(OH)2
Mg2+ + NH4OH    Mg(OH)2
Mg2+ + NH3    Mg(OH)2

































H.    PRETTY MUCH FAULT
1.    Kurangnya kosentrasi pratikan-pratikan selama proses praktikum berlangsung.
2.    Kurang teliti dalam mencampurkan larutan.
3.    Kurang teliti dalam membersikan alat praktikum.

I.    CONCLUSION
Setelah menguji beberapa sampel, maka dapat diketahui bahwa kation-kation yang didapat adalah sebagai berikut:
1.    Sampel A    : Merupakan golongan I (Pb2+)
2.    Sampel B    : Merupakan golongan I (Ag+)
3.    Sampel C    : Merupakan golongan II (Cu2+)
4.    Sampel D    : Merupakan golongan III (Al3+)
5.    Sampel E    : Merupakan golongan IV (Ba2+)
6.    Sampel F    : Merupakan golongan V (Mg2+)




















LITERATURE

Ada Prins, Verboom Hendardji. 1953. Petunjuk Singkat Untuk Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Buku Teknik H. Stam.
Day RA. Jr dan Al Underwood.1992. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi Kelima. Jakarta : Erlangga
    Khopkar.S.M.2008.konsep dasar kimia analitik. Jakarta : UI-press
P.Lukum, Astin. 2005. Bahan Ajar DDKA. Gorontalo : Jurusan  Pendidikan Kimia FMIPA UNG
Teaching, team. 2008. Modul Penuntun Praktikum Dasar-dasar Kimia Analitik. Gorontalo : UNG








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar